
| |
Dinamika mempelajari pengaruh lingkungan terhadap keadaan gerak suatu sistem. Pada dasarnya persoalan dinamika dapat dirumuskan sebagai berkut :
Penanganan persoalan dinamakan dapat di bagi atas bagian : Bagian pertama menetapkan spesifikasi pengaruh lingkungan pada sistem. Secara kuantitatif pengaruh lingkungan ini dinyatakan melalui konsep gaya; dikatakan bahwa lingkungan memberikan gaya pada sistem .Bagian ini kita sebut hukum gaya.
Contoh-contoh pasangan sistem dan lingkungan beserta hukum gaya yang berlaku :
Pasangan dua benda titik sistem, pasangan satelit-bumi : Gaya garavitasi.
Benda di dekat permukaan bumi : Gaya berat.
Benda diikat dengan tali : Tegangan tali .
Benda bersentuhan dengan lantai: gaya kontak, gaya normal, gaya gesekan.
Benda terbenam dalam fluida: gaya apung Archimedes
Benda bermuatan q bergerak dalm medan listrik E dan medan Magnet B : gaya Lorentz
Suatu sitem yang diletakkan dalam suatu lingkungan akan mendapat gaya dari lingkungan tersebut. Bila lingkungannya terdiri dari beberapa jenis, maka masing-masing jenis memberikan gayanya sendiri, sehingga gaya total yang bekerja pada sistem adalah resultan ( jumlah ) semua gaya yang bekerja padanya. Dampak dari resultan gaya ini pada keadaan gerak sistem diungkapkan oleh hukum gerak Newton. Ada tiga hukum Neuton, dan kita akan membahasnya satu per satu di bawah ini.
Pada dasarnya setiap benda memiliki sifat inert (lembam), artinya bila tidak ada ganguan dari luar benda cenderung mempertahankan keadaan geraknya. Newton mengartikan keadaan gerak ini sebagai kecepatan benda. Bila resultan pengaruh luar sama dengan nol, maka kecepatan benda tetap dan benda bergerak lurus beraturan dan diam. Karena kecepatan adalah besaran relatif, artinya kecepatan bergantung kepada kerangka acuan yang dipakai, maka pernyataan bahwa kecepatan benda tidak berubah juga bergantung kepada kerangka acuan. Kerangka acuan di mana penalaran Newton di atas berlaku disebut kerangka acuan inersial. Dengan demikian hukum Newton yang pertama dapat kita rumuskan sebagai berikut :
Dalam kerangka inersial, setiap benda akan tetap dalam keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali jika ia terpaksa mengubah keadaan tersebut oleh gaya-gaya dari lingkungan tempat benda berada.
Dapat dikatakan bahwa hukum Newton pertama ini merupakan definisi bagi kerangka inersial.
Hukum Newton II menyatakan hubungan antara gaya dan perubahan keadaan gerak secara kuantitatif. Newton menyebutkan bahwa kecepatan perubahan kuantitas gerak suatu partikel sama dengan resultan gaya yang bekerja pada partikel tersebut. Dalam bahasa kita sekarang kuantitas gerak yang dimaksudkan oleh Newton diartikan sebagai momentum p yang didefinisikan sebagai berikut p=mv dengan m adalah massa partikel dan v adalah kecepatannya. Dalam mekanika klasik pada umumnya massa partikel adalah tetap, hukum II Newton dituliskan sbb:



Fx = max; Fy = may; dan Fz = maz

Setiap gaya mekanik selalu muncul berpasangan sebagai akibat saling tindak antara dua benda. Bila benda A dikenai gaya oleh gaya B, maka benda B akan dikenai gaya oleh benda A. Pasangan gaya ini dikenal sebagai pasangan aksi-reaksi. Menurut hukum Newton III:
Setiap gaya mekanik selalu muncul berpasangan, yang satu disebut aksi dan yang lain disebut reaksi, sedemikian rupa sehingga aksi = - reaksi.
Yang mana disebut aksi dan yang mana yang disebut reaksi tidaklah penting, yang penting kedua-duanya ada.
Sifat pasangan gaya aksi-reaksi adalah sebagai berikut (1) sama besar, (2) arahnya berlawanan, dan (3) bekerja pada benda yang berlainan (satu bekerja pada benda A, yang lain bekerja pada benda B. Pasangan aksi-reaksi yang memenuhi ketiga sifat ini disebut memenuhi bentuk lemah hukum Newton III. Banyak pula pasangan aksi-reaksi yang memenuhi sifat tambahan yaitu (4) mereka terletak dalam satu garis lurus . Pasangan ini juga memenuhi sifat terakhir disebut memenuhi bentuk kuat hukum Newton III.
Gambar berikut pasangan gaya aksi-reaksi untuk sistem pesawat terbang. Fp adalah gaya propeller (propeller force) dan Fg adalah gaya gesek udara (air drag).


Pertanyaan yang kadang-kadang muncul dalam pikiran mahasiswa setelah mempelajari hukum Newton adalah:
" jika dua buah benda saling tarik-menarik dengan sejumlah gaya yang sama, bagaimana sistem tersebut bergerak?"
Jawabannya adalah harus ada gaya resultan (net force) yang bekerja pada sistem. Diagram gaya dari hukum 3 diatas belum komplit, jadi kita akan menggambarkan diagram gaya bebas untuk setiap bidang.
Kita mulai dengan sistem pesawat:

Arah gaya-gaya di ringkas pada tabel dibawah ini:
| Gaya | Arah |
|---|---|
| Gravity | Kebawah |
| Lift | Keatas |
| Air Drag | Kebelakang |
| Glider | Kebelakang |
| Propeller | Kedepan |
Jika gaya angkat (lift force) sama besar dengan gaya gravitasi maka pesawat tidak dipercepat ke atas atau kebawah. Gaya propeller harus lebih besar dari gaya glider ditambah dengan gesekan udara (air drag force) agar pesawat bergerak dipercepat ke depan.
Dengan cara yang sama untuk sistem ini, agar pesawat bergerak dipercepat ke depan, maka gaya Fplane harus lebih besar dari gaya Fdrag.


Sebuah roket dengan massa 2,800,000kg bergerak keatas dengan percepatan 3.0m/s2. Hitung gaya yang dipaki oleh mesin untuk mendorong roket ke atas ?.
Petunjuk: Jangan lupa gaya gravitasi.

Tiga ekor anjing berebut sepotong tulang. Satu menarik tulang tersebut kearah kiri dengan gaya 20N, Anjing kedua menarik ke kanan dengan gaya 35N dan yang terakhir menarik ke atas dengan gaya 15N. Berapah gaya resultan yang dialami tulang?
| Linus Pasasa | |
Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak benda dalam lintasan garis lurus dengan kecepatan tetap. Untuk lebih memahaminya, amati grafik berikut!

Gambar 1.7: Grafik v - t untuk GLB.
Grafik di atas menyatakan hubungan antara kecepatan (v) dan waktu tempuh (t) suatu benda yang bergerak lurus. Berdasarkan grafik tersebut cobalah Anda tentukan berapa besar kecepatan benda pada saat t = 0 s, t = 1 s, t = 2 s, t = 3 s?
Ya!, Anda benar! Tampak dari grafik pada gambar 6, kecepatan benda sama dari waktu ke waktu yakni 5 m/s.
Semua benda yang bergerak lurus beraturan akan memiliki grafik v - t yang bentuknya seperti gambar 6 itu. Sekarang, dapatkah Anda menghitung berapa jarak yang ditempuh oleh benda dalam waktu 3 s?
Anda dapat menghitung jarak yang ditempuh oleh benda dengan cara menghitung luas daerah di bawah kurva bila diketahui grafik (v-t)

Gambar 1.8: Menentukan jarak dengan menghitung luas di bawah kurva.
| Jarak yang ditempuh = luas daerah yang diarsir pada grafik v - t. |
| Cara menghitung jarak pada GLB. |
Tentu saja satuan jarak adalah satuan panjang, bukan satuan luas. Berdasarkan gambar 1.7 di atas, jarak yang ditempuh benda = 15 m.
Cara lain menghitung jarak tempuh adalah dengan menggunakan persamaan GLB. Telah Anda ketahui bahwa kecepatan pada GLB dirumuskan:

atau
s = v . t (Persamaan GLB)
Keterangan:
s = jarak tempuh (m)
v = kecepatan (m/s)
t = waktu tempuh (s)
| Dari gambar 1.8, | v = 5 m/s, sedangkan t = 3 s, sehingga jarak |
Persamaan GLB di atas, berlaku bila gerak benda memenuhi grafik seperti pada gambar 1.8. Pada grafik tersebut terlihat bahwa pada saat t = 0 s, maka v = 0. Artinya, pada mulanya benda diam, baru kemudian bergerak dengan kecepatan 5 m/s. Padahal dapat saja terjadi bahwa saat awal kita amati benda sudah dalam keadaan bergerak, sehingga benda telah memiliki posisi awal so. Untuk keadaan ini, maka persamaan GLB sedikit mengalami perubahan menjadi,
| Persamaan GLB untuk benda yang sudah bergerak sejak awal pengamatan. |
Dengan so menyatakan posisi awal benda dalam satuan meter. Kita akan kembali ke sini setelah Anda ikuti uraian berikut.
Di samping grafik v - t di atas, pada gerak lurus terdapat juga grafik s-t, yakni grafik yang menyatakan hubungan antara jarak tempuh (s) dan waktu tempuh (t) seperti pada gambar 1.9 di bawah.

Gambar 1.9: Grafik s- t untuk GLB
Berdasarkan gambar 1.9, kita dapat meramalkan jarak yang ditempuh benda dalam waktu tertentu di luar waktu yang tertera pada grafik. Cobalah Anda lakukan hal itu dengan cara mengisi tabel di bawah.
Tabel 1: Hubungan jarak (s) dan (t) pada GLB
| 1. | Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan tetap 36 km/jam. Berapa meterkah jarak yang ditempuh mobil itu setelah bergerak 10 menit? |
Penyelesaian:
Anda ubah dulu satuan-satuan dari besaran yang diketahui ke dalam sistem satuan SI.
t = 10 menit = 10 x 60 s = 600 s
s = v.t = 10 x 600 = 6.000 m = 6 km
Kini, kita kembali kepada apa yang telah kita bicarakan sebelum kita membahas Grafik s - t untuk GLB ini. Untuk itu kita butuh contoh.
Contoh:
| 2. | Gerak sebuah benda yang melakukan GLB diwakili oleh grafik s - t di bawah. Berdasarkan grafik tersebut, hitunglah jarak yang ditempuh oleh benda itu dalam waktu: a. 3 s b. 10 s |

Gambar 1.10: Grafik s - t untuk GLB dengan posisi awal s0.
Seperti telah dibicarakan, hal ini berarti bahwa pada saat awal kita mengamati benda telah bergerak dan menempuh jarak sejauh so=2 m.
Jadi untuk menyelesaikan soal ini, kita akan gunakan persamaan GLB untuk benda yang sudah bergerak sejak awal pengamatan.
Penyelesaian:
Diketahui:
so = 2 m
v = 4 m/s
Ditanya:
a. Jarak yang ditempuh benda pada saat t = 3 s.
b. Jarak yang ditempuh benda pada saat t = 10 s.
Jawab:
| a. | s (t) s (3s) | = so + v.t = 2 + 4 x 3 = 14 m |
| b. | s (t) s (10s) | = so + v.t = 2 + 4 x 10 = 42 m |
Ticker Timer
(a) | (b) |
| Gambar 1.11 | (a) Ticker Ticker timer atau mengetik waktu. Pita berwarna putih adalah pita ketiknya (b). Mobil mainan bertenaga baterai untuk percobaan gerak lurus. |
Gambar 1.12: Rekaman gerak benda pada pita ketik ticker timer

Gambar 1.13: Kecepatan benda lebih besar pada gambar (a)
dibandingkan pada gambar (b)

Gambar 1.14: gerak benda (a) dipercepat (b) diperlambar (c) kecepatan tetap
Interval waktu antara dua dot terdekat atau pada pita ketik sebuah ticker timer selalu tetap, yaitu 1/50 sekon atau 0,02 s. Berdasarkan hal ini kita dapat menentukan kelajuan atau besar kecepatan rata-rata suatu benda. Langkah-langkahnya sebagai berikut. Pertama, ambil rekaman pita ketik suatu benda yang ingin kita selidiki kecepatan rata-ratanya. Guntunglah pita ketik tersebut untuk sebelas dot berturut-turut (Gambar 15). Jarak dari dot pertama sampai dot kesebelas ditempuh dalam waktu 10 x 0,02 s = 0,2 s.
Gambar 1.15: Pita ketik ticker timer:
Jarak dari dot pertama sampai dot kesebelas ditempuh dalam waktu 0,2 s.
Selanjutnya, dengan menggunakan penggaris mm kita ukur jarak dari dot pertama sampai dot kesebelas pada pita ketik. Besar keceptan rata-rata benda adalah besar jarak dibagi 0,2 s.